Dolar AS Tekan Mata Uang Asia, Rupiah Merosot ke Rp17.905
By Admin

Ilustrasi Rupiah/ Dok. BI
nusakini.com, Kinerja mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau mengalami koreksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi Selasa (6/10/2026). Pelemahan ini turut menyeret nilai tukar rupiah bersama delapan mata uang negara lain di kawasan yang sama.
Mengacu pada catatan Refinitiv pukul 09.15 WIB, mata uang Indonesia dilaporkan turun sebesar 0,06 persen. Penurunan tersebut menempatkan rupiah pada level Rp17.905 per dolar AS.
Depresiasi paling tajam dilaporkan menimpa peso Filipina dengan angka penurunan mencapai 0,30 persen ke posisi PHP62,746. Posisi kedua ditempati oleh won Korea Selatan yang tercatat melemah 0,16 persen menjadi KRW1.343,75.
Fenomena serupa juga dialami oleh mata uang negara tetangga seperti dolar Singapura, dong Vietnam, dan baht Thailand. Sementara itu, ringgit Malaysia dilaporkan mengalami pelemahan paling ringan di angka 0,01 persen.
Tekanan terhadap valas Asia ini terpantau terjadi ketika pergerakan indeks dolar AS (DXY) sedang tidak menunjukkan agresivitas. Pada jam yang sama, indeks tersebut dilaporkan tertahan mendatar pada titik 102,159.
Walaupun pergerakannya terbatas pagi ini, posisi dolar AS diyakini masih sangat kuat akibat tren reli yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Indeks mata uang tersebut dilaporkan pernah menyentuh rekor tertingginya dalam kurun waktu 18 bulan terakhir.
Keperkasaan dolar AS ini diduga kuat mendapat dorongan dari tingginya imbal hasil surat utang pemerintah AS. Aset yang berbasis dolar terpantau masih menarik minat pemodal, meskipun proyeksi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober diprediksi mereda karena data ketenagakerjaan yang kurang maksimal.
Di sisi lain, euro dilaporkan terpuruk hingga menyentuh kisaran US$1,1220 yang merupakan titik terendah dalam 17 bulan akibat krisis politik di Prancis dan pemilu dadakan Spanyol. "Untuk euro bisa menguat, dibutuhkan penurunan besar harga minyak, peningkatan tajam ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Eropa, atau perbaikan dalam pengendalian defisit anggaran," kata analis Commonwealth Bank of Australia, Joseph Capurso.
Para pelaku pasar memproyeksikan masalah inflasi di Amerika Serikat akan terus memengaruhi fluktuasi nilai tukar global hingga tahun mendatang. Kondisi ini dilaporkan terjadi akibat tingginya biaya kebutuhan industri yang dipicu oleh kendala rantai pasok yang belum tuntas. (*)